JAWA JENAR DI SERENGAN

Posted on

Tulisan berikut bukanlah sebuah analisis apalagi disebut ilmiah. Lebih tepat disebut wacana hasil dari interaksi penulis dengan lingkungan serengan. Apa yang dirasakan, dilihat dan didengar oleh penulis secara subyektif mewarnai di tiap sudut. Tulisan tersebut bukan untuk maksud tidak terbantahkan. Namun, lebih karena untuk menunjukkan kacamata yang berbeda dalam melihat masyarakat serengan.

Latar Serengan

Kecamatan Serengan terdiri atas tujuh kelurahan yaitu : Serengan, Jayengan, Kemlayan, Kratonan, Tipes, Danukusuman, dan Joyotakan.
Nama-nama daerah serengan lebih banyak muncul akibat peristiwa yang dulu pernah terjadi. Tipes semisal, berasal dari peristiwa kemunculan wabah pes yang pernah membunuh penduduk di sekitar tempat tersebut. Kemlayan berasal dari tempat pertempuran pasukan perang saudara, yaitu Kasunanan dan Mangkunegaran. Kratonan berasal dari kerajaan jin yang menentang Kasunanan di awal pembentukan kerajaan Surakarta.

Penduduk serengan terdiri atas tiga etnis terbesar yaitu : Jawa, China dan Arab. Tiga etnis tersebut dapat dianggap perwakilan sub kultur masyarakat, oleh karena mereka masih menjaga beberapa budaya asli penting dan tidak tercampur antara satu dengan yang lain.

Etnis yang paling berpengaruh di serengan adalah Jawa, karena merupakan etnis mayoritas. Hal ini dapat dilihat dari kepadatan penduduk Serengan paling tinggi di antara kecamatan lain, padahal di Serengan tidak ada pemukiman arab sebagaimana di kecamatan Pasar Kliwon, demikian pula tidak ada pemukiman China sebagaimana di kecamatan Jebres. Cara memahami latar serengan pun otomatis harus memahami pula peradaban jawa.
Ciri peradaban Jawa yang terpenting ada tiga unsur, yaitu :
1.Patron
2.Simbol
3.Mistik

Unsur mistik mempunyai dua sifat, pasif dan aktif. Unsur mistik aktif yang dimaksud adalah sihir dan magic. Sebagian orang Jawa terutama solo sering menggunakan sihir, walaupun pada tingkat yang rendah, yaitu tidak membahayakan jiwa orang lain. Sihir model tersebut dapat diperhatikan dengan budaya tolak hujan ketika sedang mengadakan hajatan.
Unsur mistik pasif yang dimaksud adalah ramalan. Ada dua ramalan yang dianggap besar oleh orang Jawa hingga sekarang.
1.Jangka Jayabaya
Jangka Jayabaya merupakan ramalan tentang berakhirnya kehidupan atau kiamat. Ramalan ini berisi tentang bagaimana tanda-tanda bila kehidupan telah mendekati akhir. Ramalan ini walau dipercaya sudah ada sejak zaman Prabu Jayabaya, namun mengalami pembaharuan sehingga terlihat lebih aktual. Pembaharuan ini dilakukan oleh pujangga Yosodipuro dan Ranggawarsita.
Menilik dari isi ramalan, sebagian tidak bertentangan dengan Islam. Bahkan, para pembaharunya pun berusaha memasukkan unsur Islam dalam karya-karya mereka.
2.Sabdo Palon
Sabdo Palon adalah seorang patih terakhir kerajaan majapahit. Isi ramalan berupa kehancuran kekuasaan Islam setelah 500 tahun dari kehancuran majapahit (1478 M). Pengikut ramalan ini kemudian membuat aliran-aliran kepercayaan, salah satu produk yang terkenal adalah serat dharmo gandhul.
Menilik dari isi ramalan, jelas sekali nuansa pertentangan terhadap Islam.

Unsur simbol diejawantahkan dengan prinsip lelaku (nasib) dalam kultur jawa. Prinsip lelaku ditandai dengan perhitungan hari dan kejadian. Prinsip lelaku kemudian diformulasikan secara ekstrem dalam bentuk primbon. Memang, tidak semua orang Jawa percaya terhadap primbon. Namun, perhitungan hari masih terasa kental. Mulai dari menentukan hari pernikahan, khitan, hingga meletusnya gunung . Semua masuk rekaman berpikir.
Simbolisasi kejadian oleh orang jawa, sering dikatakan dengan istilah “othak-athik gathuk”. Peristiwa G 30 S PKI dikaitkan dengan kemunculan lintang kemukus (komet Haley), Peristiwa Pembakaran kota Solo 1998 dikaitkan dengan merebaknya pedagang jagung bakar, terakhir maraknya perdagangan tumbuhan tahun 2006 diduga merupakan awal pertumbuhan kemakmuran.

Unsur patronisasi, pada kultur jawa, di satu sisi merupakan perwujudan cara berbakti kepada leluhur, sedang sisi lain adalah bentuk balas budi. Saat RI belum berdiri, budaya ini dikemas dalam model “Magersari”, yaitu suatu model mengabdi kepada tuan tanah tanpa penarikan uang sewa rumah. Penduduk diuntungkan dengan tempat tinggal gratis, bahkan kadang-kadang mendapat mata pencaharian tambahan, sedang tuan tanah diuntungkan dengan pengamanan warga.

Ketiga unsur ini ternyata mampu dimainkan secara cantik oleh PDI-P . Secara mistik, PDI-P mampu merangkul tokoh-tokoh kejawen di masyarakat. Para tokoh tersebut sering memberikan landasan ideologis strategi , sehingga muncul kepercayaan kepemimpinan. Hal tersebut dapat terlihat dari kepercayaan, bahwa kepemimpinan selalu muncul salah satu dari dua sisi, yaitu ; Trah Kusuma atau Satria Piningit.
Soekarno pendiri PNI, cikal bakal PDI-P, terasa familier di kalangan masyarakat Jawa adalah berkat unsur mistik yang kental. Beliau dikenal sebagai keturunan darah biru (Trah Kusuma) yang sakti dan mumpuni. Cerita kesaktian Soekarno yang beredar di kawasan solo adalah luput dari usaha penembakan saat shalat berajamaah, juga harta karun Soekarno yang hanya dapat diambil dengan cara mistis.
Simbolisasi PDI-P terkesan dari penggunaan atribut merah. Merah dianggap proletarian, sebab orang desa/wong cilik suka warna menyolok, terang-terangan, apa adanya dan berani. Merah tenyata juga diminati oleh sebagian kaum perempuan, sebagai simbol kecantikan yang menonjol. Warga PDI-P punya kebanggaan tersendiri terhadap warna ini, sehingga mereka menyebut sebagai kaum abangan.
Patronisasi PDI-P dimunculkan dengan pemberian pinjaman modal kepada kaum miskin sehingga mereka dapat bekerja atau berusaha. Pinjaman modal ini jarang sekali terlihat di permukaan. Mereka lebih mementingkan hubungan khusus dengan konstituen, tanpa terlibat publikasi. Nuansa yang kental dengan kejawen, yaitu memendam siasat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s